Jumat, 20 April 2012

Perempuan Bagi Pahlawan

Di balik setiap pahlawan besar selalu ada seorang perempuan agung. Begitu kata pepatah Arab. Perempuan agung itu biasanya satu dari dua, atau dua-duanya sekaligus; sang ibu dan atau sang istri.
Pepatah itu merupakan hikmah psiko-sejarah yang menjelaskan sebagian dari  latar belakang kebesaran seorang pahlawan. Bahwa karya-karya besar seorang pahlawan lahir ketika seluruh energi di dalam dirinya bersinergi dengan momentum di luar dirinya; tumpah ruah bagai banjir besar yang tidak terbendung. Tibatiba, sebuah sosok telah hadir dalam ruang sejarah dengan tenang dan ajeg.
Apa yang dijelaskan oleh hikmah psiko-sejarah itu adalah sumber energi para pahlawan; perempuan adalah salah satunya. Perempuan bagi banyak pahlawan adalah penyangga spiritual, sandaran emosional; dari sana mereka mendapatkan ketenangan dan gairah, kenyamanan dan keberanian, keamanan dan kekuatan. Laki-laki menumpahkan energinya di luar rumah dan mengumpulkannya kembali dari dalam rumahnya. Kekuatan besar yang dimiliki para perempuan yang mendampingi para pahlawan adalah kelembutan, kesetiaan, cinta, dan kasih sayang. Kekuatan itu sering dilukiskan seperti dermaga tempat kita menambat kapal atau pohon rindang tempat sang musafir berteduh. Namun, kekuatan emosi itu sesungguhnya merupakan padang jiwa yang luas dan nyaman. Tempat kita menumpahkan sisi kepolosan dan kekanakan kita, tempat kita bermain dengan lugu dan riang, saat kita melepaskan kelemahan-kelemahan kita dengan aman, saat kita merasa bukan siapa-siapa, saat kita menjadi bocah besar. Sebab, di tempat dan saat seperti itulah para pahlawan menyedot energi jiwa mereka. Itu sebabnya Umar bin Khattab mengatakan, "Jadilah engkau bocah di depan istrimu, tetapi berubahlah menjadi lelaki perkasa ketika keadaan memanggilmu." Kekanakan dan keperkasaan, kepolosan dan kematangan, saat lemah dan saat berani, saat bermain dan saat berkarya, adalah ambivalensi-ambivalensi kejiwaan yang justru berguna menciptakan keseimbangan emosional dalam diri para pahlawan. "Saya selamanya ingin menjadi bocah besar yang polos," kata Sayyid Quthub. Para pahlawan selalu mengenang saat-saat indah ketika ia berada dalam pangkuan ibunya dan selamanya ingin begitu ketika terbaring dalam pangkuan istrinya. Siapakah yang pertama kali ditemui Rasulullah saw setelah menerima wahyu dan merasakan ketakutan yang luar biasa? Khadijah! Maka, ketika Rasululullah saw ditawari untuk menikah setelah Khadijah wafat, beliau mengatakan, "Dan siapakah wanita yang sanggup menggantikan peran Khadijah?" Itulah keajaiban dari kesederhanaan. Kesederhanaan yang sebenarnya adalah keagungan; kelembutan, kesetiaan, cinta, dan kasih sayang. Itulah keajaiban perempuan.

Saudaraku, kalau kau teteskan air matamu
kau basahi pula nisanku dalam sunyi 
Nyalakan lilin-lilin dari tulang belulangku
Jalanlah terus ke kemenangan abadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar