Selasa, 19 Juni 2012

Sebuah Kelembutan Atas Cinta

Cinta adalah rasa yang kuucap dalam setiap desah
dan cuaca tak sampai-sampai getarnya padamu

^Mata Ketiga Cinta^

Hembusan atas kelembutan cinta sejatinya kan selalu kita rasakan dengan orang-orang yang kita sayangi. Tak sederhana untuk menyadari yang kita pikirkan jika kita mencintai insan yang membangun cinta untuk senantiasa mengharapkan RidhoNya. Rasa yang terucap hingga setiap desah nya tak sulit sama sekali tak sulit. Namun Cinta selalu mewarnai setiap episode perjuangan hidup kita. Cinta adalah warna di setiap episode yang selalu terurai dalam kebencian, kesedihan, kebahagiaan, kegagalan, kesuksesan dan episode-episode lainnya. Cinta yang hadir diantara dua insan merupakan hadiah yang terindah dari Rabb kita. Namun, mampukah kita menjaga cinta itu? Sebuah hadiah dari Maha Agung. Cinta terhadap insan bisa jadi menyeretmu kedalam ruang membingungkan dan meninggalkan sendirian. Kita seharusnya menyadari jikalau sebuah pilihan yang kita ambil adalah Mencintai maka Sejatinya kita siap untuk Disakiti. Orang yang mencintai, ia pasti tau cara untuk menyakitinya. Apalagi saat hati terbakar sebuah cemburu, bisa jadi kita kehilangan kemampuan untuk berpikir realistis. Realitanya episode cinta banyak warna, Sering kita melihat sebuah kisah cinta yang selalu diharapkan menjadi pendamping hidupnya namun tak berujung sebuah janji sakral yakni sebuah pernikahan. Bahkan sebuah penantian yang begitu panjang, ya pada akhirnya berbenturan dengan apa yang kita cintai tapi ia mencintai yang lain. Rumit bukan jika bicara cinta, merenungi nasib sebuah kegagalan cinta hanya akan menambah beban kesedihan bagi yang mengalami. Kegagalan seseorang dalam membangun cinta tentunya bukanlah orang yang berlarut-larut dalam kemalangannya. Cinta jika disikapi dengan baik dan penuh kesabaran maka akan berbuah kedewasaan dan selalu bersyukur atas karunia cinta yang diberikan Sang Maha Agung.

 
Kala cinta menyengat sebuah hati, maka yang terbesit dalam nurani kita, Apakah salah jika seseorang yang mencintai manusia lainnya sebelum halal baginya? Rasa suka atau tertarik hingga terpesona sebelum menikah sepertinya tak menjadi masalah. Bukan menjadi sandungan masalah jika hanya sebatas menaruh simpati dan kagum, menyukai keteladanan dalam pribadinya. Apakah cinta harus berucap hingga meyelimuti hati? Pastinya ada sebuah harapan kepada seorang yang kita cintai untuk menjadi bagian dari separuh hidupnya, Hal ini juga bukan sebuah kesalahan. Menjadi fitrah manusia mencintai dan mengharapkan pasangannya adalah Orang yang shalih/shaliha, mempesona, mengagumkan dan terdapat keteladanan yang sangat baik dalam dirinya. Tapi haruskah kita mencintainya? Dan apakah harus Fulan/ah? 

Sebuah kewajaran jika hati kita terpikat dan menentukan pilihan bahwa ia adalah pasangan terbaik kita itu hal yang manusiawi. Tapi mencintainya, wajarkah? Kita tersadar betul bahwa Allah Penguasa Hati, Dia membolak-baliknya, maka Menikahi orang yang dicinta itu kemungkinan, mencintai orang yang dinikahi itu kewajiban. Apakah kita merasa yakin bahwa ia adalah pasangan terbaik kita? Tapi jika bukan, betapa kasihan pasangan  kita yang sebenarnya. Ia punya hak yang seharusnya mendapatkan cinta seutuhnya, namun sebagian hati telah tertawan pada hati yang lain. Ia yang seharusnya kita cintai, tapi nyatanya hanya mendapatkan sisa-sisa cinta dari sekeping hati kita yang rapuh ini. Cinta menyapa penuh kelembutan, Tak ada cinta yang sempurna, tetapi selalu ada ruang menyempurnakan cinta. Tulang rusuk tak akan pernah tertukar, Allah tahu siapa yang terbaik untuk hambanya. Tak perlu galau karena kesibukan kita untuk mencintai hati yang belum tentu ia cinta seperti kelembutan kita mencintainya. Kalau ia cinta, itupun belum tentu skenario Allah menakdirkan untuk berjodoh dengan pilihan kita. Tak sampai ada lubang dalam hati,yang kian mencari penutupnya. Yang kita nikahi adalah kewajiban kita untuk mencintainya. Bukan sebuah serpihan cinta yang kita berikan. Seharusnya Langkah terbaik sekarang, kita persiapkan diri dan menghijab hati untuknya. Aku ingin mencintaimu tanpa tapi. Ketahuilah kawan, Cinta itu ada jatuh & bangunnya. Walau pernah ia jatuh pada sosok yang keliru, bersiaplah membangun cinta dengan siapapun yang diridhaiNya.

Sungguh maha dahsyat rasanya jika kita mencintai apa yang kita miliki. Dalam hidup cinta terus mewarnai kesyukuran dan kesabaran. Kesabaran akan membuahkan hasil. Kebahagiaan cinta yang kita miliki bukan suatu hal yang sulit untuk kita wujudkan. Allah membersamai kemudahan disetiap kesulitan. Hati nan damai dan tenang membersamai nafas kelembutan atas cinta.

Cinta kepada manusia tak pernah berujung sebuah keabadian. Kelembutan atas cinta akan mengalir hingga bermuara pada yang Maha Agung. Kewajiban mencintai pasangan yang kita nikahi adalah wujud kecintaan kita pada Sang Penguasa Cinta. CintaNya begitu luas hingga tanpa batas. Dialah yang berhak mendapat persembahan cinta yang seutuhnya. Kecintaan kita tak terlepas dari cintaNya. Jikalau rasa kegundahan hati, kemana cinta harus terpaut dengan ikatan yang jelas halal? maka kegalauan serta kegelisahan tidak menjamur dalam hati. Janganlah berduka, sungguh Allah bersama kita, ingat dan dekatilah, takut dan berharaplah, memuji dan mengabdilah, Cintailah. Yakinlah Dia tak akan menyia-nyiakan kecintaan kita yang seadanya ini. Jikalau kita mendapati skenario Allah yang tak sesuai dengan apa yang kita harapkan, bukan Allah tak sayang dan cinta kepada kita. Tapi Allah menginginkan kita melipatgandakan sabar dan memaknai syukur atas Nikmat dan kelembutan cintaNya. Allah, jangan henti namaMu hadir dalam hatiku. jadikan ia selalu menggigil takut, mendecah harap, mendesir cinta. Selalulah berhajat pada Allah agar ingat padaNya. Selalulah panjatkan doa agar kau mesra. Selalulah hidupkan taqwa, agar kau cinta. Jadikan cintamu pada Allah bagai bumi yang subur, di situ tumbuh segala cinta pada selainnya yang membuahkan kemaslahatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar