Senin, 30 April 2012

Sebuah Naturalitas bukan Sekedar Pencitraan

Hiruk pikuk pilgub DKI mengalihkan perhatian bagi para mata yang memandang menuju Jakarta Satu. Hal ini merupakan pesta demokrasi yang memiliki berjuta harapan bagi para calon-calon pemimpin yang siap “beresin Jakarta”. Manuver politik dari para calon kini kian memanas. Membusungkan dada dan berlenggak-lenggok bak model pemimpin yang sudah berkuasa, mencari perhatian bahkan belas kasihan. Ah, itu sebuah strategi saja bagi para calon. Banyak masalah yang akan dihadapi para pemimpin yang duduk dikursi betawi satu alias Daerah  Konflik Indonesia. Ya, berjuta konflik bangsa ini bisa jadi sangat menumpuk untuk segera diselesaikan. Banjir sudah biasa, penganguran jadi perampok atau pengimis sudah bisa hidup dijakarta bahkan jadi kolongjembatan (tempat penginap para tuna wisma).

Senin, 23 April 2012

Senyum Saling Mengerti dengan Kelembutan Nurani

Senyum membuat hati begitu damai bak hati tanpa masalah,Senyum memberikan saling mengerti dalam persaudaraan.Dibalik keajaiban senyum ada harapan untuk kembali semangat.Dalam persaudaraan kita tersambung bukan untuk saling terikat membebani melainkan untuk saling memahami dan saling mengerti dengan kelembutan nurani.”Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat orang-orang yang bukan Nabi,dan bukan pula para Syuhada,”Ujar Rasullah sebagaimana dibawakan dalam hadits oleh imam Abu Dawud,”Tapi bahakan para nabi dan Syuhada cemburu pada mereka di hari kiamat nanti,tersebab kedudukan yang diberikan oleh Allah pada mereka”
“Ya Rasulullah,”Kata para Sahabat ketika itu,”Beritahukanlah kepada kami siapa mereka?””Mereka itu adalah segolangan manusia yang saling mencintai karena rahmat Allah.Bukan oleh sebab kekerabatan dan darah. Bukan pula karena didasarkan karena pemberian harta, Demi Allah,wajah mereka pada hari itu bersinar cemerlang dan mereka berada diatas cahaya. Mereka tiada merasa khawatir ketika manusia lain ketakutan. Dan mereka tidak bersedih ketika manusia lain berduka”

Minggu, 22 April 2012

Integrasi Demokrasi dalam Nilai-nilai Keislaman

Islam dan demokrasi sering diposisikan secara berhadap-hadapan dan saling menafikan. Banyak pemikir Muslim dan intelektual menafsirkan diri mereka dengan “kualitas demokrasi”, bukan melalui praktik konkret dari praktik-praktik demokrasi, namun semata-mata karena oposisi nominal terhadap para Islamis. Di satu sisi, beberapa kalangan Muslim menolak kata “demokrasi” , karena merupakan bagian dari sejarah barat dan “tidak terdapat dalam Al-Qur’an”.

Kerumitan persoalan semakin mengemuka ketika entitas sebagai sesuatu yang universal harus dijewantahkan dalam keseluruhan dimensi kehidupan umat manusia. Hal ini sekaligus memberikan alternative solusi atas berbagai dilemma demokrasi yang memunculkan kenyataan bahwa penerapan demokrasi tidak selamanya mampu menuai kesejahterahan bagi penganutnya. Yang terjadi justru kemerosotan kehidupan yang ditandai dengan meningkatnya angka kemiskinan, pengangguran dan dan kriminalitas. Biang keladi kemerosotan ditudingkan pada demokrasi sebagai hasil kreasi manusia atas dasar pengakuan hak dan kebebasan individu yang cenderung kebablasan saat nilai-nilai keislaman yang bersumber pada ajaran ketuhanan terlupakan.
Kalangan muslim yang mengikuti system demokrasi bersikeras memandang bahwa islam adalah sebuah pedoman hidup yang perlu dijabarkan dalam realitas kehidupan social masyarakat lewat aturan strategis dan praktis. Sebagai pedoman, Islam tentu saja menunjuki jalan,sementara system demokrasi adalah jalan praktis tersebut. Tidak peduli jika masyarakat barat yang notabene memiliki sejarah paling panjang mengawal gagasan demokrasi hingga menyemarak dalam tata pemerintahan modern. Secara implist, nilai-nilai keislaman pada dasarnya sesuai dengan demokrasi dan boleh jadi demokrasi adalah pilihan praktis yang membumikan prinsip islam sebagai pedoman hidup.

Karunia Kegagalan

Kehidupan ini, sebenarnya lebih mirip pelangi ketimbang sebuah foto hitam putih. Setiap manusia akan merasakan  begitu banyak warna kehidupan. la mungkin mencintai sebagian warna tersebut. Akan tetapi, ia pasti tidak akan mencintai semua warna itu.
 Demikian pula dengan perasaan kita. Semua warna kehidupan yang kita alami, akan kita respon dengan berbagai jenis perasaan yang berbeda-beda. Maka, ada duka di depan suka, ada cinta di depan benci, ada harapan di depan cemas, ada gembira di depan sedih. Kita merasakan semua warna perasaan itu, sebagai respon kita terhadap berbagai peristiwa kehidupan yang kita hadapi.

Jumat, 20 April 2012

Jangan Gelapkan Yang Sudah Terang

Habis Gelap Terbitlah Terang. Demikian judul buku yang ditulis oleh Raden Adjeng Kartini, pejuang emansipasi wanita Indonesia. Dan kita tak bisa menutup mata terhadap sejarah yang mencatat perjuangan beliau dalam menempatkan kaum wanita pada hak dan kewajiban yang semestinya.
Jangan gelapkan yang sudah terang. Ini bukanlah judul sebuah buku, tapi mungkin akan dituliskan oleh Kartini bila beliau masih hidup di jaman sekarang, dimana emansipasi banyak disalahartikan, juga disalahtempatkan. Emansipasi sering dipahami sebagai sebuah kebebasan yang seolah tidak ada aturan. Sungguh, kebebasan yang kebablasan.

Perempuan Bagi Pahlawan

Di balik setiap pahlawan besar selalu ada seorang perempuan agung. Begitu kata pepatah Arab. Perempuan agung itu biasanya satu dari dua, atau dua-duanya sekaligus; sang ibu dan atau sang istri.
Pepatah itu merupakan hikmah psiko-sejarah yang menjelaskan sebagian dari  latar belakang kebesaran seorang pahlawan. Bahwa karya-karya besar seorang pahlawan lahir ketika seluruh energi di dalam dirinya bersinergi dengan momentum di luar dirinya; tumpah ruah bagai banjir besar yang tidak terbendung. Tibatiba, sebuah sosok telah hadir dalam ruang sejarah dengan tenang dan ajeg.

Rabu, 18 April 2012

Aku Bangga Jadi Sarjana Pertanian,kamu?

 Anak muda adalah sejarah perlawanan dan pembelaan . Kecenderungan saat ini, generasi muda melihat pekerjaan sebagai petani yang kurang bergengsi. Jika ada para pemuda yang ingin menjadi petani, dapat dipastikan bahwa pekerjaan ini adalah alternatif terakhir karena sulitnya mencari pekerjaan lain di negeri ini. Arus globalisasi yang semakin gencar, membuat pola pikir manusia banyak berubah. Baik tentang gaya hidup, pergaulan, kehidupan sosial, maupun bidang pekerjaan. Perubahan ini terjadi terutama pada generasi muda.
Ini jelas sebuah kecenderungan yang perlu secara khusus mendapat perhatian tersendiri. Dapat dibayangkan, bagaimana jadinya sektor pertanian negeri ini jika 50% lebih pelakunya mereka yang sudah berusia lanjut. Apabila tidak tertangani dengan baik, dikhawatirkan yang akan muncul kemudian fenomena "no-hope agricultural", terutama bagi generasi muda dalam lingkup masyarakat pertanian itu sendiri.