Hiruk pikuk pilgub DKI
mengalihkan perhatian bagi para mata yang memandang menuju Jakarta Satu. Hal
ini merupakan pesta demokrasi yang memiliki berjuta harapan bagi para
calon-calon pemimpin yang siap “beresin Jakarta”.
Manuver politik dari para calon kini kian memanas. Membusungkan dada dan
berlenggak-lenggok bak model pemimpin yang sudah berkuasa, mencari perhatian
bahkan belas kasihan. Ah, itu sebuah strategi saja bagi para calon. Banyak masalah
yang akan dihadapi para pemimpin yang duduk dikursi betawi satu alias
Daerah Konflik Indonesia. Ya, berjuta
konflik bangsa ini bisa jadi sangat menumpuk untuk segera diselesaikan. Banjir
sudah biasa, penganguran jadi perampok atau pengimis sudah bisa hidup dijakarta
bahkan jadi kolongjembatan (tempat
penginap para tuna wisma).Senin, 30 April 2012
Hiruk pikuk pilgub DKI
mengalihkan perhatian bagi para mata yang memandang menuju Jakarta Satu. Hal
ini merupakan pesta demokrasi yang memiliki berjuta harapan bagi para
calon-calon pemimpin yang siap “beresin Jakarta”.
Manuver politik dari para calon kini kian memanas. Membusungkan dada dan
berlenggak-lenggok bak model pemimpin yang sudah berkuasa, mencari perhatian
bahkan belas kasihan. Ah, itu sebuah strategi saja bagi para calon. Banyak masalah
yang akan dihadapi para pemimpin yang duduk dikursi betawi satu alias
Daerah Konflik Indonesia. Ya, berjuta
konflik bangsa ini bisa jadi sangat menumpuk untuk segera diselesaikan. Banjir
sudah biasa, penganguran jadi perampok atau pengimis sudah bisa hidup dijakarta
bahkan jadi kolongjembatan (tempat
penginap para tuna wisma).Senin, 23 April 2012
Senyum
membuat hati begitu damai bak hati tanpa masalah,Senyum memberikan saling
mengerti dalam persaudaraan.Dibalik keajaiban senyum ada harapan untuk kembali
semangat.Dalam persaudaraan kita tersambung bukan untuk saling terikat
membebani melainkan untuk saling memahami dan saling mengerti dengan kelembutan
nurani.”Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat orang-orang yang
bukan Nabi,dan bukan pula para Syuhada,”Ujar Rasullah sebagaimana dibawakan dalam
hadits oleh imam Abu Dawud,”Tapi bahakan para nabi dan Syuhada cemburu pada
mereka di hari kiamat nanti,tersebab kedudukan yang diberikan oleh Allah pada
mereka”
“Ya
Rasulullah,”Kata para Sahabat ketika itu,”Beritahukanlah kepada kami siapa
mereka?””Mereka itu adalah segolangan manusia yang saling mencintai karena
rahmat Allah.Bukan oleh sebab kekerabatan dan darah. Bukan pula karena
didasarkan karena pemberian harta, Demi Allah,wajah mereka pada hari itu
bersinar cemerlang dan mereka berada diatas cahaya. Mereka tiada merasa
khawatir ketika manusia lain ketakutan. Dan mereka tidak bersedih ketika
manusia lain berduka”
Minggu, 22 April 2012
Islam
dan demokrasi sering diposisikan secara berhadap-hadapan dan saling menafikan.
Banyak pemikir Muslim dan intelektual menafsirkan diri mereka dengan “kualitas
demokrasi”, bukan melalui praktik konkret dari praktik-praktik demokrasi, namun
semata-mata karena oposisi nominal terhadap para Islamis. Di satu sisi,
beberapa kalangan Muslim menolak kata “demokrasi” , karena merupakan bagian
dari sejarah barat dan “tidak terdapat dalam Al-Qur’an”.
Kerumitan
persoalan semakin mengemuka ketika entitas sebagai sesuatu yang universal harus
dijewantahkan dalam keseluruhan dimensi kehidupan umat manusia. Hal ini
sekaligus memberikan alternative solusi atas berbagai dilemma demokrasi yang
memunculkan kenyataan bahwa penerapan demokrasi tidak selamanya mampu menuai
kesejahterahan bagi penganutnya. Yang terjadi justru kemerosotan kehidupan yang
ditandai dengan meningkatnya angka kemiskinan, pengangguran dan dan
kriminalitas. Biang keladi kemerosotan ditudingkan pada demokrasi sebagai hasil
kreasi manusia atas dasar pengakuan hak dan kebebasan individu yang cenderung
kebablasan saat nilai-nilai keislaman yang bersumber pada ajaran ketuhanan
terlupakan.
Kalangan
muslim yang mengikuti system demokrasi bersikeras memandang bahwa islam adalah
sebuah pedoman hidup yang perlu dijabarkan dalam realitas kehidupan social masyarakat
lewat aturan strategis dan praktis. Sebagai pedoman, Islam tentu saja menunjuki
jalan,sementara system demokrasi adalah jalan praktis tersebut. Tidak peduli jika
masyarakat barat yang notabene memiliki sejarah paling panjang mengawal gagasan
demokrasi hingga menyemarak dalam tata pemerintahan modern. Secara implist,
nilai-nilai keislaman pada dasarnya sesuai dengan demokrasi dan boleh jadi
demokrasi adalah pilihan praktis yang membumikan prinsip islam sebagai pedoman
hidup.
Kehidupan
ini, sebenarnya lebih mirip pelangi ketimbang sebuah foto hitam putih. Setiap manusia
akan merasakan begitu banyak warna kehidupan.
la mungkin mencintai sebagian warna tersebut. Akan tetapi, ia pasti tidak akan
mencintai semua warna itu.
Demikian pula dengan perasaan kita. Semua
warna kehidupan yang kita alami, akan kita respon dengan berbagai jenis perasaan
yang berbeda-beda. Maka, ada duka di depan suka, ada cinta di depan benci, ada harapan
di depan cemas, ada gembira di depan sedih. Kita merasakan semua warna perasaan
itu, sebagai respon kita terhadap berbagai peristiwa kehidupan yang kita
hadapi.
Jumat, 20 April 2012
Habis Gelap Terbitlah Terang. Demikian judul buku yang ditulis oleh
Raden Adjeng Kartini, pejuang emansipasi wanita Indonesia. Dan kita tak
bisa menutup mata terhadap sejarah yang mencatat perjuangan beliau dalam
menempatkan kaum wanita pada hak dan kewajiban yang semestinya.
Jangan
gelapkan yang sudah terang. Ini bukanlah judul sebuah buku, tapi
mungkin akan dituliskan oleh Kartini bila beliau masih hidup di jaman
sekarang, dimana emansipasi banyak disalahartikan, juga
disalahtempatkan. Emansipasi sering dipahami sebagai sebuah kebebasan
yang seolah tidak ada aturan. Sungguh, kebebasan yang kebablasan.
Di
balik setiap pahlawan besar selalu ada seorang perempuan agung. Begitu kata
pepatah Arab. Perempuan agung itu biasanya satu dari dua, atau dua-duanya
sekaligus; sang ibu dan atau sang istri.
Pepatah
itu merupakan hikmah psiko-sejarah yang menjelaskan sebagian dari latar belakang kebesaran seorang pahlawan. Bahwa
karya-karya besar seorang pahlawan lahir ketika seluruh energi di dalam dirinya
bersinergi dengan momentum di luar dirinya; tumpah ruah bagai banjir besar yang
tidak terbendung. Tibatiba, sebuah sosok telah hadir dalam ruang sejarah dengan
tenang dan ajeg.
Rabu, 18 April 2012
Anak muda
adalah sejarah perlawanan dan pembelaan . Kecenderungan saat ini, generasi muda
melihat pekerjaan sebagai petani yang kurang bergengsi. Jika ada para pemuda
yang ingin menjadi petani, dapat dipastikan bahwa pekerjaan ini adalah
alternatif terakhir karena sulitnya mencari pekerjaan lain di negeri ini. Arus
globalisasi yang semakin gencar, membuat pola pikir manusia banyak berubah.
Baik tentang gaya hidup, pergaulan, kehidupan sosial, maupun bidang pekerjaan.
Perubahan ini terjadi terutama pada generasi muda.
Ini jelas
sebuah kecenderungan yang perlu secara khusus mendapat perhatian tersendiri.
Dapat dibayangkan, bagaimana jadinya sektor pertanian negeri ini jika 50% lebih
pelakunya mereka yang sudah berusia lanjut. Apabila tidak tertangani dengan
baik, dikhawatirkan yang akan muncul kemudian fenomena "no-hope agricultural", terutama bagi generasi muda dalam
lingkup masyarakat pertanian itu sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)